Kamis, 29 November 2012

JENDERAL KITA BUKAN AHLI PERCALOAN SENJATA, TAPI AHLI PERANG


KAMIS, 02 FEBRUARI 2012 | 16:34 WIB
SBY: Jangan Ada ''Mark Up'' Senjata TNI
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono meminta supaya kultur mark up dan kongkalikong dalam pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan) dihilangkan.

"Saya sudah lama menengarai dulu, kultur mark up, kultur kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan tertentu, sehingga merugikan negara. Kami bertekad jangan lagi ada seperti itu," kata dia membuka Sidang Kabinet Terbatas Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kamis 2 Februari 2012.

Yudhoyono menjelaskan pemerintah tetap memberi ruang dan kesempatan bagi setiap orang untuk berbisnis di pengadaan alutsista. Namun jangan sampai ada lobi dan galangan dukungan berbagai pihak hingga terjadi mark up dan negara pun dirugikan.

"Saya tahu barangkali tidak nyaman kebijakan seperti ini. Ada yang merasa dirugikan atau kurang penghasilan. Tapi harus dilakukan di era kita, harus pertanggungjawabkan belanja kalau menyangkut anggaran negara," ujarnya.

Bahkan Presiden menegaskan segala praktek pengadaan alutsista yang tidak benar harus segera dihentikan. "Saya masih mencium godaan-godaan ke arah itu. Dan kalau itu terjadi, beri tindakan tegas, termasuk siapa yang mengajak melakukan penyimpangan pengadaan alutsista. Hakikatnya semua pengadaan di negeri ini, di kementerian mana pun," katanya.

Di sisi lain Presiden juga meminta Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengutamakan pengadaan alutsista dari industri dalam negeri. "Manakala tidak tersedia, boleh mengadakan dari luar. Tapi dengan format yang baik, dengan kerangka kerja sama yang baik, supaya di kemudian hari bisa mandiri," kata dia.

ARYANI KRISTANTI










Tidak ada komentar:

Posting Komentar